Ahli Pertahanan UI : RI Jadi Medan Adu Pengaruh dan Perang Strategi AS dan Cina

News  
 Letak geografis wilayah yang berada di gugusan perairan Laut Natuna Utara, menjadikan Indonesia menjadi salah satu medan pengaruh AS dan Cina.(Ilustrasi)  Foto :  Antara
Letak geografis wilayah yang berada di gugusan perairan Laut Natuna Utara, menjadikan Indonesia menjadi salah satu medan pengaruh AS dan Cina.(Ilustrasi) Foto : Antara

Kampus.republika.id—Indonesia menjadi salah satu medan adu pengaruh dan perang strategi Amerika Serikat dan Cina. Menurut ahli pertahanan UI Edy Prasetyono, letak geografis wilayah Indonesia yang berada di gugusan perairan Laut Natuna Utara, menjadikan Indonesia berada dalam posisi seperti itu.

Berbicara di hadapan puluhan dosen Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal) yang melakukan studi banding ke FISIP UI pekan lalu, Edy Prasetyono mengatakan, Indonesia sudah berulangkali menegaskan tidak memiliki sengketa dengan Cina di Laut Natuna Utara. Namun menurutnya, aktivitas sejumlah kapal ikan dan patroli Cina di ZEE Indonesia di sekitar Natuna menjadi persoalan perhatian.

Edy menjelaskan Amerika Serikat menyadari posisi Indonesia yang sangat strategis. “Cina mempunyai kepercayaan yang tinggi dan persepsi Amerika Serikat is in decline. Amerika Serikat mempunyai pandangan bahwa Cina adalah salah satu strategic competitor yang mengancam posisi Amerika Serikat,” kata Edy seperti dikutip dalam laman https://www.ui.ac.id/.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Edy yang merupakan dosen Program Studi (Prodi) Ilmu Hubungan Internasional, di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UI itu, mengatakan bahwa strategi Amerika Serikat adalah beraliansi bilateral maupun multilateral dengan negara-negara besar dan konsepsi yang military heavy. Sedangkan Cina menekankan pragmatisme hubungan ekonomi, kerja sama pembangunan infrastruktur, dukungan politik serta penguatan militer di Laut Natuna Utara.

Kepala Koordinator Dosen (Kakoordos) Seskoal Laksamana Pertama TNI Judijanto, memaparkan situasi rawan konflik Laut Natuna Utara, meningkat hingga menuju titik krisis. Ini menurutnya terjadi karena negara-negara di kawasan yang menentang klaim sepihak dari Cina, akan berlomba meningkatkan kekuatan pertahanan militernya.

Lebih lanjut Judijanto menjelaskan, ada beberapa fakta permasalahan yang masih terjadi di perairan Natuna Utara. Di antaranya belum terselesaikannya konflik terkait ZEE dan landasan kontinen, adanya kegiatan penangkapan ikan, serta Cina melakukan protes terhadap kegiatan eksplorasi migas Indonesia

Dalam konflik di Laut Natuna Utara, klaim tersebut tumpang-tindih dengan wilayah perairan dan ZEE sejumlah negara ASEAN seperti Filipina, Vietnam, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Sementara Amerika Serikat menjadi negara yang aktif menentang klaim dan aksi sepihak Cina. (maya)

Ikuti informasi penting dan keren setiap hari dari kampus.republika.co.id. Anda juga dapat berpartisipasi mengisi konten, kirimkan tulisan, foto, info grafis, dan video melalui e-mail : kampus.republika.gmail.com

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image