Apa Itu Gas Metan yang Memicu Ledakan Tambang Batubara di Sawahlunto ?

Serba Serbi  
Tambang batubara milik PT PT Nusa Alam Lestari (PT NAL) di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat meledak pada Jumat (09/12/22). Ledakan itu diduga dipicu oleh gas metan. Foto : dok
Tambang batubara milik PT PT Nusa Alam Lestari (PT NAL) di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat meledak pada Jumat (09/12/22). Ledakan itu diduga dipicu oleh gas metan. Foto : dok

Kampus—Ledakan tambang batubara di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, Jumat (09/12/22), mengakibatkan sembilan orang meninggal dunia dan sejumlah korban lain mengalami luka-luka. Kapolda Sumatera Barat Irjen Pol Suharyono menduga gas metan menjadi penyebab terjadinya ledakan di tambang batubara milik PT Nusa Alam Lestari (PT NAL) itu.

Ledakan gas metan mupakan bencana yang kerap terjadi di pertambangan batubara. Bukan kali ini saja tambang batubara di Sawahlunto mengalami ledakan. Ledakan tambang batubara di Sawahlunto pada Oktober 2012 juga dipicu oleh gas metan.

Apa itu gas metan ? Kenapa gas metan bisa meledak ?

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Menurut Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Gas Metan Batubara (Coalbed Methane) adalah Gas Bumi (hidrokarbon) dimana gas metan merupakan komponen utamanya yang terjadi secara alamiah dalam proses pembentukan batubara (coalification) dalam kondisi terperangkap dan terserap (teradsorbsi) di dalam batubara dan/atau lapisan batubara.

Metan adalah gas yang lebih ringan dari udara, tak berwarna, tak berbau, dan tak beracun. Dikutip dari laman minerba.esdm.go.id, metan terdapat di semua lapisan batubara, terbentuk bersamaan dengan pembentukan batubara itu sendiri. Di tambang batubara bawah tanah, udara yang mengandung 5-15% metan dan sekurangnya 12.1% oksigen akan meledak jika terkena percikan api.

Jumlah metan dalam suatu lapisan amat bervariasi. Konsentrasi metan akan meningkat seiring peningkatan kualitas batubara dan kedalaman cadangan. Metan terkandung dalam lapisan pori batubara dan terkompresi disana. Saat lapisan tersebut ditambang, metan yang bersemayam di pori lantas terlepas.

Sebanyak 70-80% kadar metan justru bukan berasal dari lapisan yang sedang ditambang. Sebagian besar metan berasal dari lapisan sekelilingnya (atas/bawah, kiri/kanan) yang belum ditambang. Ini bisa terjadi karena adanya perbedaan tekanan antara metan di pori-pori batubara (tekanan tinggi) dengan tekanan udara terowongan (lebih rendah). Gas bertekanan tinggi akan selalu mencari udara dengan tekanan lebih rendah.

Di awal perkembangan tambang batubara, sirkulasi udara yang tidak cukup, kegagalan deteksi atas keberadaan metan, penggunaan api, merokok, atau penggunaan bahan peledak (black powder) yang tidak tepat, menjadi penyebab utama ledakan di tambang batubara bawah tanah.

Cara yang paling umum digunakan untuk mengurangi kadar metan adalah dengan merancang suatu sistem sirkulasi udara (ventilasi) yang baik. Udara yang cukup dan sirkulasi yang lancar diharapkan mampu mengurangi kadar gas berbahaya ini. Hanya saja, terkadang ventilasi saja tidak mencukupi. Ada kalanya jumlah udara yang melimpah tetap tidak mampu mengurangi kadar metan. Jika ini yang terjadi, pengurangan kandungan metan mesti dilakukan sebelum penambangan itu dimulai.


Baca juga :

Unpad Jalin Kerjasama dengan Kota Sawahlunto, Dorong Pengembangan Kota

Angka Kemiskinan Terendah No 1 di Indonesia, Apa Rahasia Kota Sawahlunto ?

Kesempatan Kuliah Gratis di Akademi Pertambangan Milik BUMN dengan Beasiswa, Simak Info Lengkapnya

Unpad Siap Laksanakan Penerimaan Mahasiswa Baru dengan Tes Potensi Skolastik (TPS)

Ikuti informasi penting dan menarik dari kampus.republika.co.id. Silakan menyampaikan masukan, kritik, dan saran melalui e-mail : kampus.republika@gmail.com

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

[email protected] (Marketing)

× Image