Senyum Manis Sang Penulis

Guru Menulis  
Cerpen : Senyum Manis Sang Penulis. Foto : pixabay
Cerpen : Senyum Manis Sang Penulis. Foto : pixabay

Oleh: Nurgayah Hasibuan

Liburan sekolah sudah hampir selesai. Neni sudah mulai mempersiapkan segala sesuatu perlengkapan sekolahnya. Mulai dari alat tulis sampai pakaian sekolah ia persiapkan.

Selama libur sekolah Neni sang penulis tidak pergi kemana mana untuk berlibur. Ia tetap kelihatan ceria, walau teman sebayanya banyak yang liburan ke tempat tempat wisata. Ia sadar akan keadaan orang tuanya. Hanya seorang pedagang kecil dengan penghasilan pas pasan.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Neni anak yang pandai dan selalu berprestasi di sekolah. Ia duduk di kelas ix salah satu SMP di kotanya. Orang tuanya bangga terhadap Neni. Senyum manis Neni selalu jadi penghibur dikala orang tuanya merasa lelah.

Libur sekolah tiga minggu ia isi dengan kegiatan menulis. Menulis memang hoby Neni sejak duduk di bangku SD. Bakat menulisnya selalu didukung orang tuanya.

"Sudah berapa hasil karya tulis mu selama libur ini, nak...?" terdengar suara dari balik dinding. Suara itu adalah suara ibunya.

"Sudah lumayan banyak, mak,” jawab Neni.

Neni membuat beberapa tulisan yang ingin dibuatnya menjadi buku solo hasil karyanya. Buku solo yang akan dibuatnya sudah ada beberapa buku. Ada buku dongeng, cerpen, puisi, dan pantun. Ia akan mengirim tulisannya pada percetakan. Selain itu tulisan Neni juga sering terbit di Koran Cerah. Koran Cerah adalah Koran local untuk beberapa Kabupaten yang ada di Provinsi Sumut.

Betapa bahagianya ia dengan hasil tulisannya itu.

"Buku ini nanti akan ku jual, mak,” kata Neni pada emaknya.

"Uangnya nanti bisa untuk bantu keperluan kita di rumah ini," kata Neni lagi.

Emak nya hanya bisa diam mendengar ungkapan putri manisnya itu. Dalam hati ia merasa sangat bersyukur memiliki anak seperti Neni.

Neni masih asik dengan persiapan merapikan perlengkapan sekolahnya. Ia senang tahun ajaran baru 2021/2022 sekolah sudah belajar tatap muka, walau masih terbatas.

Sudah setahun lebih Neni belajar secara PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) dengan cara Luring. Ia jemput bahan pelajaran ke sekolah, lalu ia kerjakan di rumah. Hasil kerjanya diantar kembali ke sekolah.

Teman sekelas Neni banyak yang belajar secara daring, tapi Neni tidak bisa mengikuti seperti teman teman nya. Ia tidak memiliki androit. Ia hanya punya laptop bekas, yang dibelikan ibunya. Laptop inilah yang digunakannya untuk menulis.

Walau Neni tidak memiliki android, tapi Neni tidak pernah ketinggalan pelajaran muapun informasi dibanding teman-temannya. Ia selalu bertanya jika ada hal-hal yang belum ia ketahui pada guru maupun teman temannya. Hasil belajarnya selalu baik, bahkan meningkat setiap semester.

Beberapa minggu kemudian buku solo Nenipun akhirnya terbit. Satu persatu bukunya mulai terjual. Akhirnya buku Neni menjadi best seller.

Keuntungan dari penjualan buku disisihkan Neni untuk kaum dhuafa, selebihnya diberikan kepada emaknya tercinta. Neni berharap uang tersebut bisa membantu ekonomi keluarganya. Neni memang anak yang manis, dan rajin belajar. Ibunya sangat sayang padanya.

“Assalamualaikum ..,” ucap Neni saat ia pulang dari sekolah.

Terdengar dari dapur emaknya menjawab, “ Walaikum salam .,”

“Udah pulang, nak ?” tanya emak Neni.

“Sudah, mak ,” jawab Neni.

Saat Neni sedang di kamar menganti seragam sekolahnya, emak Neni datang menghampirinya. Emak menggoyang-goyangkan sebuah kotak android di tangannya.

“Ini buat Neni, mak ?” Tak sabar direnggutnya kotak android dari tangan emak. Emak mengangguk sambil tersenyum bahagia melihat anaknya begitu kegirangan.

Neni mencium kotak android, saking senangnya, namun tiba-tiba ia terdiam.

“Kenapa, nak?” Kamu gak suka?” emak mengerutkan keningnya.

“Suka kali Neni, mak. Tapi emak kok bisa beli ini? Emak dapat uang dari mana?” selidik Neni.

“Ini uang hasil penjualan bukumu, nak ku. Emak sisihkan untuk beli android, karena emak tau kamu membutuhkan ini untuk belajar,” jawab emak sambil memeluk Neni dan membelai rambut Neni.

Betapa bahagianya Neni, tak sadar air matanya bercucuran. Begitu juga dengan emak.

“Emak bangga pada mu, nak .,” kata emak seakan berbisik.

Nurgayah Hasibuan

Kepala UPTD SDN 017107 Kisaran Naga, Asahan, Sumatera Utara

Baca juga :

Syal Berwarna Palestina

Aku Tak Pandai Bicara

Dalam Keterpurukan

Ikuti informasi penting setiap saat dari kampus.republika.co.id. Anda juga dapat berpartisipasi mengisi konten, kirimkan tulisan, foto, info grafis, dan video melalui e-mail : kampus.republika@gmail.com

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

[email protected] (Marketing)

× Image