Guru Besar UI Taniawati Supali Terima Bosscha Medal dari Leiden-Delft-Erasmus Universitiies

Info Kampus  
Prof Taniawati Supali merupakan guru besar Parasitologi FKUI yang memiliki kepakaran di bidang filariasis dan kecacingan. Foto : ui.ac.id
Prof Taniawati Supali merupakan guru besar Parasitologi FKUI yang memiliki kepakaran di bidang filariasis dan kecacingan. Foto : ui.ac.id

Kampus—Guru Besar Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof Taniawati Supali, mendapat penghargaan Bosscha Medal dari Leiden-Delft-Erasmus (LDE) Universities. Dia dinilai memberikan sumbangsih yang luar biasa terhadap ilmu pengetahuan, pemberdayaan masyarakat, kolaborasi internasional, dan knowledge sharing.

Penghargaan diberikan pada acara pembukaan BRIN-LDE Academy yang diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional bersama Universitas Leiden-Delft-Erasmus (BRIN-LDE Academy) di Serpong, Tangerang Selatan, Senin (31/10/22). Dirilis dari laman UI, tahun ini, LDE secara perdana memberikan penghargaan Medali Bosscha untuk para peneliti yang diusulkan oleh profesor dari masing-masing universitas. Pengusul Prof Taniawati dalam penghargaan ini adalah Prof Maria Yazdanbaksh dari Leiden University Medical Centre (LUMC).

Taniawati menyampaikan rasa senang dan bangga bahwa kerja sama yang telah terjalin selama lebih dari 30 tahun dengan Maria Yazdanbakhsh dari LUMC mendapatkan apresiasi. “Terakhir saya ambil kutipan dari Helen Keller yang berbunyi ‘Alone we can do so little, together we can do so much’. Kerja sama ini dapat terlaksana karena adanya kontribusi dari banyak orang, baik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia maupun dari Leiden University Medical Center. Terima kasih untuk itu semua,” ujar Tania.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Taniawati merupakan guru besar Parasitologi FKUI yang memiliki kepakaran di bidang filariasis dan kecacingan. Dari beberapa riset yang telah dilakukan, Taniawati berhasil meraih berbagai penghargaan atas program penelitian dan usahanya dalam mengurangi angka penyakit filariasis (kaki gajah) di Indonesia, salah satunya dari Bill Melinda Gate Foundation (BMGF). Di tingkat nasional, Taniawati adalah anggota Gugus Tugas untuk Program Filariasis Limfatik yang berafiliasi dengan World Health Organization (WHO).

Melalui kapasitas ilmiahnya, Taniawati telah melakukan riset-riset lainnya, seperti penelitian perubahan pola penyakit dari penyakit menular (eliminasi penyakit cacingan, filariasis, malaria) ke penyakit tidak menular yang sekarang ini sedang dialami banyak negara termasuk Indonesia. Selain itu, dia juga mampu mengumpulkan data-data ilmiah mengenai beberapa kelompok penyakit dari populasi terabaikan sebagai bentuk kontribusi terhadap kemajuan kesehatan masyarakat di kawasan terpencil di Indonesia.

Penghargaan diberikan langsung oleh Dekan Leiden-Delft-Erasmus Universities Prof Wim van den Doel. “Saya sangat mengapresiasi Prof Dr Wim van den Doel yang telah memilih saya untuk menerima penghargaan ini. Penghargaan ini tentu saja menjadi simbol long-lasting collaboration antara tim saya dari dari FKUI dan Prof dr Maria Yazdanbakhsh dari LUMC,” ujar Taniawati.

Kemitraan antara FKUI dan LUMC telah dimulai sejak tahun 1989. Saat itu, Taniawati Supali dan Maria Yazdanbakhsh (Guru Besar LUMC sekaligus Ajunct Profesor FKUI) melakukan kerjasama penelitian untuk pertama kalinya di daerah Sumatera. Kemitraan ini menghasilkan banyak penelitian di berbagai daerah di Indonesia. Selain itu, kemitraan antara FKUI dan LUMC juga semakin meluas dengan adanya program pertukaran mahasiswa antar kedua institusi.

Dekan FKUI Prof Ari Fahrial Syam yang turut hadir pada penyerahan penghargaan tersebut mengucapkan selamat kepada Prof Taniawati Supali atas penghargaan Boscha Medal yang berhasil diraih. Pencapaian ini menurutnya melengkapi sejumlah penghargaan yang berhasil diterima Tania atas dedikasi dan pengabdiannya di bidang riset penyakit akibat parasit, khususnya kaki gajah di Indonesia.

“Saya berharap prestasi ini dapat menginspirasi seluruh sivitas FKUI untuk terus memberikan dampak positif bagi kemajuan kesehatan Indonesia dan dunia,” kata Ari Fahrial.

Baca juga :

Empat Prodi FMIPA UI Raih Akreditasi Internasional dari ASIIN Jerman

UI Masuk 10 Universitas Terbaik di Asia Tenggara Versi THE WUR 2022

25 Kampus Terbaik di Indonesia Versi THE WUR 2023, Ada Enam Kampus Swasta

Ini Saran Pakar UI Agar Tragedi Kanjuruhan tak Terulang

Mahasiswa UI Ciptakan Aplikasi SI PAUD, untuk Cegah Amputasi pada Pasien Diabetes

Prodi Produksi Media Vokasi UI Kembangkan Mata Kuliah Game

26 Mahasiswa Vokasi UI Lolos IISMAVO 2022, Kuliah di Kampus Top Dunia

UI Peringkat Satu di Indonesia Versi THE Asia University Rankings Juni 2022

Tim Mahasiswa UI Juara Asia Pacific pada Shell Eco-Marathon Autonomous Programming Competition 2022

10 Besar Dunia Universitas Paling Top di Twitter, Kampus Indonesia Mendominasi

Ikuti informasi penting dari kampus.republika.co.id. Silakan memberi masukan, kritik, dan saran melalui e-mail : kampus.republika@gmail

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

[email protected] (Marketing)

× Image