Mengenal Lebih Dekat Kurikulum Merdeka

Guru Menulis  
Kurikulum merdeka yang sebelumnya disebut kurikulum prototipe dikembangkan sebagai kerangka kurikulum yang lebih fleksibel, berfokus pada materi esensial dan pengembangan karakter dan kompetensi murid. Foto : Republika 
Kurikulum merdeka yang sebelumnya disebut kurikulum prototipe dikembangkan sebagai kerangka kurikulum yang lebih fleksibel, berfokus pada materi esensial dan pengembangan karakter dan kompetensi murid. Foto : Republika

Oleh Sri Rahayu

Guru SMP N 13 Balikpapan Kaltim

Kurikulum Merdeka sebagai nama baru dari kurikulum prototipe resmi diluncurkan oleh Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim. Bagaimana pengaturan dan penerapan Kurikulum Merdeka ini ?

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Saat ini sekolah bisa memilih kurikulum yang akan digunakan. Pilihan tersebut antara lain (1) Kurikulum 2013, (2) Kurikulum Darurat, (3) Kurikulum Merdeka. Kurikulum Darurat merupakan kurikulum 2013 yang disederhanakan. Kurikulum Merdeka merupakan pengembangan dan penerapan dari kurikulum darurat yang diluncurkan untuk merespon dampak dari pandemi Covid-19.

Dalam Kurikulum Merdeka, pendidikan berpatokan pada esensi dari belajar, di mana setiap anak memiliki bakat dan minatnya masing-masing. Kurikulum Merdeka merupakan pilihan yang bisa digunakan sekolah agar efektif memitigasi ketertinggalan pembelajaran pada masa pandemi Covid-19. Sementara Kurikulum 2013 tetap bisa digunakan sesuai kesiapan sekolah menerapkan kurikulum baru. Kurikulum Merdeka bakal diterapkan pada tahun ajaran baru 2022/2023. Mulai dari TK hingga SMA bisa menerapkan Kurikulum Merdeka bertahap berdasarkan kesiapan masing-masing.

Alasan diperlukannya Kurikulum Merdeka

Indonesia telah mengalami krisis pembelajaran yang cukup lama. Hasil studi menunjukkan bahwa banyak anak Indonesia yang tidak mampu memahami bacaan sederhana atau menerapkan konsep matematika dasar. Selain itu ada kesenjanganpendidikan yang curam antarwilayah dan kelompok sosial di Indonesia. Kondisi ini semakin parah dengan adanya pandemi Covid-19. Untuk itu diperlukan perubahan yang sistemik. Salah satunya melalui kurikulum. Kemendikbudristek mengembangkan Kurikulum Merdeka untuk memulihkan pembelajaran dari krisis yang sudah lama dialami anak-anak Indonesia.

Karakteristik Kurikulum Merdeka

Kurikulum merdeka yang sebelumnya disebut kurikulum prototipe dikembangkan sebagai kerangka kurikulum yang lebih fleksibel, berfokus pada materi esensial dan pengembangan karakter dan kompetensi murid. Untuk mendukung pemulihan pembelajaran akibat pandemi Covid-19 yang memunculkan learning loss, Kurikulum Merdeka mempunyai karakteristik sebagai berikut.

Pertama, pembelajaran berbasis projek untuk pengembangan soft skills dan karakter sesuai profil pelajar Pancasila. Kedua, fokus pembelajaran pada materi esensial akan membuat pembelajaran lebih mendalam bagi kompetensi dasar seperti literasi dan numerasi. Ketiga, guru menjadi lebih fleksibel melakukan pembelajaran berdiferensiasi sesuai kemampuan peserta didik dan melakukan penyesuaian dengan konteks dan muatan lokal.

Pilihan menggunakan kurikulum oleh sekolah

Adanya pilihan bagi sekolah untuk menggunakan salah satu dari tiga kurikulum mungkin akan memunculkan pertanyaan bagi banyak orang. Mengapa Kurikulum Merdeka dijadikan opsi? Mengapa Pemerintah tidak langsung menetapkannya menjadi kurikulum yang wajib digunakan semua sekolah? Hal ini didasarkan alasan- alasan berikut.

Pertama, sekolah memiliki kewenangan dan tanggung jawab untuk mengembangkan kurikulum sesuai kebutuhan dan konteks masing-masing sekolah. Kedua, kebijakan memilih kurikulum diharapkan dapat memperlancar proses perubahan kurikulum nasional karena dilakukan secara bertahap. Jadi kebijakan memberikan opsi kurikulum merupakan salah satu upaya manajemen perubahan.

Perubahan kurikulum secara nasional baru akan dilakukan pada tahun 2024. Selama menunggu tahun 2024, Kurikulum Merdeka sudah melalui iterasi perbaikan di beragam sekolah dan daerah. Pada tahun 2024 sudah akan cukup banyak sekolah di daerah-daerah yang mempelajari dan menerapkan Kurikulum Merdeka. Sekolah tersebut nantinya dapat menjadi mitra belajar bagi sekolah lain.

Kriteria sekolah yang akan Menerapkan Kurikulum Merdeka

Sekolah yang akan menerapkan Kurikulum Merdeka harus memenuhi kriteria pokok, yakni berminat menerapkan kurikulu itu untuk memperbaiki pembelajaran. Kepala sekolah akan diminta mempelajari materi tentang konsep Kurikulum Merdeka. Setelah memutuskan mencoba menerapkan, sekolah akan mengisi formulir pendaftaran dan survei singkat. Kesediaan kepala sekolah dan guru dalam memahami dan mengadaptasi Kurikulum Merdeka di di konteks masing-masing menjadi kunci keberhasilan.

Jadi tidak ada seleksi dalam proses pendaftaran untuk menerapkan Kurikulum Merdeka. Kemendikbudristek hanya menyiapkan skema tingkat penerapan kurikulum berdasarkan hasil survei sekolah. Selanjutnya akan dilakukan pemetaan tingkat kesiapan dan disiapkan bantuan yang sesuai kebutuhan.

Dengan mengenal Kurikulum Merdeka, diharapkan tidak terjadi kesalahpahaman terhadap pelaksanaan kurikulum. Sekolah nantinya bisa memilih untuk mengembangka kurikulum mereka sesuai dengan karakteristik sekolah. Ini berarti Kurikulum Merdeka tidak akan membelenggu otonomi sekolah. Dengan Kurikulum Merdeka, pelaksanaan pembelajaran menjadi lebih sederhana dan mendalam.

Baca juga :

Menanamkan Literasi Sejak Dini Melalui Pocapoli

Euforia Cantik Ala Korea, Ajarkan Gadis Kecil Mencintai Kulit Coklatnya Agar tidak Rasis

Ikuti informasi penting setiap hari dari kampus.republika.co.id. Anda juga dapat berpartisipasi mengisi konten, kirimkan tulisan, foto, info grafis, dan video melalui e-mail : kampus.republika@gmail.com

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image