Cakap Komunikasi, Kuasai Relasi, untuk Karier yang Menanti

Opini  
Foto : pixabay
Foto : pixabay

Oleh Melisa Bunga Altamira

Menghadapi perubahan dunia yang serba cepat dan semakin terbuka ini, kita dituntut untuk semakin mahir berkomunikasi. Dalam konteks ini, kemampuan komunikasi interpersonal menjadi kecakapan utama yang harus dimiliki untuk menjalin relasi. Selain keunggulannya untuk menjalin relasi, komunikasi interpersonal juga dapat digunakan untuk mengenali dan memahami diri lebih dalam lagi dalam kaitannya untuk mengoptimalkan potensi diri.

Dalam rumusan konteks komunikasi, kemampuan komunikasi interpersonal memegang peranan yang amat penting untuk membuka kesempatan dalam konteks komunikasi yang lebih luas lagi seperti komunikasi publik atau massa. Semakin baik kecakapan komunikasi interpersonal kita, maka akan semakin luas pula jalinan relasi yang dapat kita bina.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Komunikasi interpersonal, dikenal juga dengan komunikasi antar pribadi, adalah komunikasi yang dilakukan antar dua orang atau lebih (West & Turner, 2007). Komunikasi dalam konteks ini, sangat erat kaitannya dengan berbagai aspek dan aktivitas dalam kehidupan manusia. Semua orang pasti melakukan komunikasi interpersonal.

Melihat pentingnya komunikasi interpersonal dalam semua aspek kehidupan, kemudian lahir beberapa studi yang mengaitkan komunikasi interpersonal dengan ragam relasi yang umum terjalin. West & Turner (2007) merangkum setidaknya ada tujuh studi utama yang memperlihatkan kaitan antara komunikasi interpersonal dengan jalinan relasi yaitu relasi dengan keluarga/family relations (Segrin & Flora, 2005); relasi dengan teman/friendship relations (Chen, Drzewiecka, & Sias, 2001); relasi dalam pernikahan/long term marriages relations (Hughes & Dickson, 2015); relasi dokter-pasien/physician-patient relations (Richmond, Smith, Heisel, & McCroskey, 2001); dan relasi dengan rekan kerja/workplace relations (Brunning, Castle, & Schrepfer, 2014). Dalam profesi kehumasan, juga dibutuhkan kemampuan interpersonal salah satunya dalam menjalin hubungan dengan media/media relations (Lesley, 1991).

Sebelum membahas kaitan antara komunikasi interpersonal yang baik dalam menunjang relasi dalam kehidupan, akan kita bahas terlebih dahulu tujuan orang melakukan komunikasi. Setidaknya ada enam tujuan utama orang melakukan komunikasi, yaitu:

1. Mengenali/mengetahui diri sendiri. Sebagai makhluk homosimbolikum, manusia butuh berinteraksi sebagai medium untuk mempertukarkan simbol dalam upayanya mencari makna diri. Symbolic Interaction Theory menyebutkan bahwa manusia sebenarnya kosong. Manusia perlu berinteraksi, mempertukarkan simbol, untuk mengenali dirinya sendiri. Makna dan simbol yang ditangkap dari hasil interaksi dengan orang lain menjadikan manusia tersebut memahami dirinya, mengetahui sifat-sifatnya, hingga kekhasan atas dirinya. Agar tercipta pengenalan diri yang baik melalui pertukaran simbol yang sarat makna, manusia memerlukan komunikasi dengan orang lain.

2. Mengurangi ketidakpastian. Saat kita pertama kali bertemu dengan seseorang, berbagai asumsi ketidakpastian berkecamuk di dalam pikiran kita mengenai orang yang akan kita temui. Apakah dia baik, berpikiran terbuka, jutek, menyenangkan untuk diajak bicara, dan lainnya. Lalu bagaimana caranya untuk mengurangi ketidakpastian tersebut? Dalam Uncertainty Reduction Theory, komunikasi, khususnya komunikasi interpersonal, merupakan medium yang tepat untuk mengurang ketidakpastian tersebut. Semakin sering kita berkomunikasi, maka ketidakpastian-ketidakpastian tersebut lambat laun akan berkurang.

3. Bertukar pesan/informasi. Sebagai insan komunikasi, kita tentu ingat bahwa Harold Laswell pernah mengatakan bahwa komunikasi merupakan sebuah proses penyampaian pesan melalui media kepada orang lain yang menimbulkan efek/dampak tertentu. Hal ini yang mendasari the Laswell Formula, “who says what to whom in which channel with what effect.” Kata yang bercetak tebal menunjukkan arti ‘pesan’. Jelas sudah, bahwa manusia berkomunikasi untuk mengirimkan pesan/informasi.

4. Berekspresi. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia memiliki ratusan emosi dan perasaan yang perlu untuk dikeluarkan atau disampaikan. Komunikasi lagi-lagi menjadi medium yang tepat untuk berekspresi, seperti mengutarakan pendapat, menyampaikan perasaan, hingga terlibat dalam diskusi.

5. Persuasi. Salah satu tujuan orang melakukan komunikasi yaitu untuk melakukan praktik persuasif. Konsep ini dikenal dengan komunikasi persuasif yaitu menggunakan kepiawaian komunikasi sebagai cara untuk memengaruhi sikap dan perilaku orang lain (Hendri, 2019).

6. Memulai, menjalin, dan mengelola relasi. Tujuan terakhir dari komunikasi ini merupakan pokok utama pembahasan tulisan ini. Melalui komunikasi, kita memulai, menjalin, hingga mengelola relasi. Untuk mencapai tujuan ini, dibutuhkan kemampuan komunikasi yang baik, mulai dari pemilihan kata atau bahasa, bersikap dengan lawan bicara, memperhatikan gestur, hingga kejelasan dalam berbicara.

Setelah memahami tujuan berkomunikasi, sekarang saatnya membahas poin-poin yang perlu diperhatikan dalam berkomunikasi yang baik untuk menjalin relasi. Apa saja?

1. Mengetahui latar belakang lawan bicara. Hal pertama yang penting untuk diingat saat memulai komunikasi untuk menjalin relasi adalah mengetahui latar belakang lawan bicara. Apa saja latar belakang yang harus diketahui? Cukup banyak, mulai dari latar belakang pendidikan, budaya, ekonomi, psikologis, dan lainnya. Pengetahuan ini dapat digunakan untuk meminimalisasi pesan yang tidak dipahami atau bahkan kalimat yang berpotensi menyinggung lawan bicara. Hindari membahas hal-hal privat di awal pertemuan atau perkenalan.

2. Menjadi pribadi yang supel, bersikap terbuka, dan antusias. Tampilkan persona baik dari diri kita saat berkomunikasi dengan mendengarkan lawan bicara sebaik mungkin. Tunjukkan bahwa kita antusias terhadap komunikasi yang sedang terjadi dan terbuka untuk berkomunikasi dengan siapa saja. Berikan senyuman, kontak mata, respons, serta pancarkan aura yang hangat dan bersahabat. Buat lawan bicara kita merasa nyaman untuk terus berbicara, berkomunikasi, dan menjalin relasi.

3. Humanis. Sebagai ‘human’, sudah seharusnya kita bersifat humanis. Perlakukan lawan bicara sebagai sesama manusia, yang sama-sama memiliki makna dan nilai. Jangan pernah merendahkan orang lain.

4. Kuasai keterampilan berbahasa. Keterampilan bahasa sangat erat kaitannya dengan efektivitas dan keberhasilan komunikasi. Terdapat empat keterampilan bahasa, baik lisan maupun tulisan, yaitu keterampilan menyimak/mendengarkan; keterampilan berbicara; keterampilan membaca; dan keterampilan menulis. Keterampilan berbahasa juga dapat dinilai dari kepiawaian kita membedakan mana bahasa Indonesia yang baik (sesuai konteks) dan benar (sesuai kaidah). Tidak ada salahnya kita memulai kembali mempelajari bahasa Indonesia, mulai dari kata, diksi, hingga struktur kalimat. Karena keterampilan berbahasa yang baik akan mencerminkan esensi bahasa sebagai sarana komunikasi (Lanin, 2019).

5. Memperhatikan konteks komunikasi. Saat berkomunikasi sebagai upaya menjalin relasi, kita harus memperhatikan sedang berada di konteks komunikasi mana. Apakah dalam rapat kecil? Siapa saja yang hadir? Sedang bicara di mana? Bagaimana karakter audiensnya? Berbeda konteks, berbeda pula cara berkomunikasi kita. Pastikan kita bisa membedakan dan tahu bagaimana berkomunikasi dalam konteks komunikasi yang berbeda.

6. Memperhatikan etika berkomunikasi. Etika sangat terkait erat dengan moral dan kebiasaan. Menyampaikan pesan dengan sopan, sesuaikan bahasa dan pilihan kata dengan lawan bicara merupakan bagian dari etika komunikasi. Jika komunikasi disampaikan melalui medium teknologi, perhatikan waktu dalam mengirim pesan, gunakan salam dan sapa, serta perkenalkan diri jika merupakan komunikasi pertama. Pemahaman etika komunikasi yang baik akan menunjukkan tingkat profesionalitas kita.

7. Peka pada komunikasi nonverbal. Selain kepiawaian dalam melakukan komunikasi verbal, memahami komunikasi nonverbal juga tak kalah penting. Jangan abaikan komunikasi nonverbal yang diperlihatkan lawan bicara seperti mimik muka, nada bicara, gestur, dan lainnya. Apakah lawan bicara menampilkan mimik muka yang antusias? Nada bicara yang datar? Atau berkali-kali melihat jam? Melalui komunikasi nonverbal ini kita dapat mengevaluasi kegiatan komunikasi yang sedang berlangsung.

8. Menggunakan gaya komunikasi yang efektif, asertif, dan percaya diri. Sampaikan pesan kita dengan jelas, to the point, dan terstruktur hingga mudah dipahami oleh lawan bicara. Hindari berkomunikasi dengan budaya konteks tinggi (high context culture), atau penyampaian pesan yang bertele-tele, tidak langsung pada poin, atau justru dengan kode-kode. Gunakan komunikasi budaya konteks rendah atau low context culture dengan menyampaikan langsung maksud dan tujuan dari pesan komunikasi tersebut.

9. Mengelola komunikasi secara berkala. Jika komunikasi interpersonal sudah dipraktikan dengan baik dan relasi sudah terjalin, Langkah yang perlu dilakukan berikutnya adalah mengelola jalinan relasi dan komunikasi tersebut. Kelola komunikasi secara berkala untuk menghindari asumsi bahwa kita menghubungi hanya jika ada keperluan saja. Gunakan momen-momen tahunan seperti ulang tahun atau hari raya untuk mengelola komunikasi. Jangan segan untuk memberikan perhatian profesional seperti apresiasi, ucapan selamat, mungkin duka cita, atau sekadar menanyakan kabar.

10. Meningkatkan literasi mengenai penggunaan medium komunikasi. Seiring dengan berkembangnya media komunikasi, utamanya media baru, kita juga dituntut untuk memiliki literasi digital terkait penggunaan media komunikasi tersebut. Kelola media sosial kita dengan baik agar dapat menjadi panggung untuk menampilkan diri kita, baik secara personal maupun profesional. Hindari mengirimkan informasi-informasi bernada SARA, hoaks, atau bahkan yang terlalu privat. Sebaliknya, kirimkan informasi-informasi yang edukatif, menghibur, serta humanis. Selain itu, pada media komunikasi berbasis chat seperti WhatsApp, Telegram, dan lainnya, usahakan untuk menjaga iklim grup chat tersebut tetap kondusif dan suportif.

Hubungan komunikasi, relasi, dan karier di masa depan

Menjadi seseorang yang piawai dalam berkomunikasi dapat dipelajari, dan penting untuk dipelajari. Mengapa? Karena komunikasi merupakan kunci utama untuk menjalin relasi. Komunikasi dan relasi yang terjalin dengan baik, akan membawa kita ke tingkatan karier yang lebih baik. Berikut adalah beberapa alasan mengapa komunikasi menjadi penting dalam menjalin relasi:

1. Menghindari miskomunikasi

Komunikasi yang disampaikan dengan baik, tepat sasaran, akan memudahkan komunikan untuk memahami apa yang disampaikan oleh komunikator. Oleh karena itu, penting untuk memastikan pesan kita tersampaikan dengan baik untuk menghindari miskomunikasi yang berpotensi merusak jalinan relasi.

2. Meminimalisasi konflik

Konflik merupakan sebuah dinamika dalam kehidupan manusia. Namun, sebelum konflik terjadi, setidaknya kita dapat meminimalisasi konflik tersebut dengan komunikasi.

3. Meningkatkan produktivitas

Dalam sebuah organisasi, komunikasi memegang peranan penting. Komunikasi yang baik dan lancar akan memudahkan penyampaian arus informasi, baik untuk keperluan karyawan maupun pimpinan. Bila komunikasi berjalan dengan baik dan lancar dalam sebuah organisasi, pesan yang disampaikan dapat dengan mudah dipahami, maka aktivitas organisasi juga akan baik dan produktivitas kerja dapat meningkat.

4. Tercipta hubungan yang harmonis, aman, dan nyaman

Efektivitas komunikasi yang baik, keinginan untuk berkomunikasi yang baik, hingga arus informasi yang lancar, akan menciptakan relasi yang harmonis, aman, dan nyaman bagi tiap anggotanya.

Jika komunikasi dan relasi sudah terjalin dengan baik, lalu apa dampaknya bagi karier kita di masa depan? Alasan berikut dapat memberi gambaran mengapa kita harus pandai menjalin komunikasi dan relasi untuk karier di masa depan.

1. Orang senang bekerja sama dengan kita

2. Kerap direkomendasikan

3. Memudahkan pekerjaan

4. Kepuasan kerja meningkat

5. Tawaran untuk mendapat jenjang karier lebih tinggi

6. Tercipta suasana kerja yang menyenangkan

Komunikasi, bagi manusia, adalah prasyarat kehidupan. Sebagai makhluk sosial, tidak akan ada manusia yang sanggup tidak berkomunikasi, berinteraksi, dan bersosialisasi. Melalui komunikasi, manusia dapat mencari makna untuk diri dan kehidupannya. Paul Watzlawick dan rekan penelitinya pernah menyampaikan bahwa, “We cannot not communicate” (Gamble & Gamble, 2005).

Melisa Bunga Altamira, MSi

Dosen Penyiaran Multimedia Program Pendidikan Vokasi UI

Referensi:

Gamble & Gamble. (2005). Communication works (8th edition). New York: McGraw Hill.

Hendri, Ezi. (2019). Komunikasi persuasif pendekatan dan strategi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Lanin, Ivan. (2019). Keterampilan berbahasa. https://narabahasa.id/keterampilan-bahasa/menyimak/keterampilan-berbahasa diakses pada 24 Desember 2021.

West, Richard & Lynn H. Turner. (2007). Introducing communication theory: Analysis and application (3rd edition). New York: McGraw Hill.

Baca juga :

Transformasi Kesehatan Tradisional Indonesia

Euforia Cantik Ala Korea, Ajarkan Gadis Kecil Mencintai Kulit Coklatnya Agar tidak Rasis

Ibukota Negara Baru Seharusnya NUSANTARAPURA

Ikuti informasi penting dari kampus.republika.co.id. Anda juga dapat berpartisipasi mengisi konten, kirimkan tulisan, foto, info grafis, dan video melalui e-mail : kampus.republika@gmail.com

Berita Terkait

Image

Mau Masuk UI ? Cek Tujuh Program Pendidikan di UI dan Jalur Masuknya

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

[email protected] (Marketing)

× Image